Rabu, 12 Juni 2013

Nasib Nelayan Ujunggebang Tanjung pura






Nasib nelayan di Indramayu kini tak menentu. Cuaca buruk yang menyebabkan mereka harus meminggirkan perahunya ke pantai selama waktu yang lama membuat hutang mereka terus bertumpuk.

Tukijan, seorang nelayan asal Desa Ujunggebang, Kecamatan Sukra mengatakan gelombang tinggi di laut membuat nelayan kapal kecil seperti mereka tak berani melaut. Tukijan mengisahkan, suatu hari dia pernah nekat melaut. Tapi di tengah lautan tiba-tiba saja ada gelombang tinggi dan angin kencang. Akibatnya, mereka pun balik kanan kembali ke darat dan akhirnya kerugian yang dia dapatkan.

Kerugian itu diakibatkan karena sebelum melaut mereka memerlukan modal untuk membeli solar dan lainnya sebesar Rp 500 ribu. Uang itu didapat dari hasil berhutang ke juragan kapal.

Ketua Serikat Nelayan Tradisional Kabupaten Indramayu Daka mengakui dalam kondisi seperti ini, nelayan tradisional lah yang paling terpukul. Karena perekonomian mereka sangat tergantung dengan pendapatan mencari ikan setiap harinya. Pendapatan itu pun biasanya dalam sehari habis, sehingga mereka harus setiap hari untuk melaut. Karena tidak bisa melaut, biasanya nelayan tradisional akan berhutang ke pemilik warung atau ke juragan-juragan kapal.

Sementara itu untuk membantu mengurangi beban ekonomi nelayan tradisional akibat cuaca buruk, Koperasi Perikanan Laut (KPM) Karya Mina di Desa Ujunggebang, Kecamatan Sukra, membagikan paket total 60 ton beras kepada 4 ribu KK nelayan. Beras tersebut berasal dari dana paceklik yang diambil dari retribusi nelayan sebesar 1,5 persen. (

UJUNGGEBANG BERGAYA - Nelayan di pesisir Desa Ujunggebang, Kecamatan Sukra telah mempersiapkan diri guna mengadakan acara pesta laut atau nadran yang dijadwalkan hari ini akan di buka. Sementara untuk ritualnya, direncanakan akan dilaksanakan, Minggu (16/6) lusa.
Ketua panitia pesta laut, Karya Mina melalui sekertarisnya ketika dihubungi Ujunggebang bergaya, Selasa (10/6) memastikan persiapan jelang nadran laut tahun 2013 oleh kepanitiaan dari unsur anggota pelelangan, sudah berjalan dengan baik. Selain ritual hajat bumi kaum nelayan, juga dipersiapkan hiburan rakyat.
Direncanakan, sambung dia, jelang sesi ritual nadra sebagai puncak agenda tahunan ini, panitia menyajikan  pagelaran wayang kulit sebagai kesenian tradisional daerah pesisir laut utara Pulau Jawa. Kemudian, pada sesi pembuka nadran laut diawali kegiatan Dangdut Pantura Disponsory Gudang garam GG mild. "Kita juga mengundang Artis Ibu kota untuk mengisi Dangdut dan Band" ulasnya.
Untuk sesi penutup, tambahnya, nadran laut tahun ini dipastikan bakal mengundang pelaku seni hiburan orkes dangdut dari kalangan artis lokal. Panitia berharap, kondisi cuaca dan angin laut tidak menjadi halangan rencana nelayan untuk mengadakan kegiatan syukuran ini. "Ini merupakan kegiatan besar bagi kami. Bahkan rencananya beberapa politisi regional dari Jawa barat siap hadir menyaksikan pesta para nelayan di Ujunggebang


Ruat laut 2011 ujunggebang






Ujunggebang bergaya- Ikan bakar etong sebanyak seton (1.000 kilogram) turut memeriahkan Pesta Laut di tepi Pantai Wisata Tanjung Pura, Desa Ujunggebang, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Minggu

Acara Pesta Laut, di Pantai Wisata Tanjung Pura yang diselenggarakan pada 15 Juni Sampai 16 Juni  tahun ini lebih meriah dibanding tahun sebelumnya karena ada acara pembakaran ikan bandeng sebanyak 1 ton secara bersamaan di tepi Pantai Tanjung Pura, kata salah seorang Panitia Pesta Laut, Amsory, kepada Ujunggebang bergaya, di Tanjung pua, Sabtu. Dan Minggu

Dikatakannya, perayaan Pesta Laut di Pantai Wisata Tanjung Pura pada tahun-tahun sebelumnya hanya digelar beberapa hiburan seperti dangdut, wayang Kulit dan hiburan Sandiwara.

Namun, kata Amsory, yang tetap dipertahankan dalam perayaan Pesta Laut dari tahun ke tahun ialah ritual pembuangan kepala kerbau ke tengah laut dengan dibawa satu perahu nelayan, dan diiringi sekitar 200 perahu nelayan lainnya.

Pada ritual yang dilakukan Minggu siang,  Camat Sukra hadir dan ikut naik ke perahu nelayan ke tengah laut, untuk membuang kepala kerbau tersebut.

Menurut Camat Sukra, Teguh budiarso, ritual pembuangan kepala kerbau itu dilakukan setiap tahun sebagai simbol rasa syukur para nelayan Desa Ujunggebang kepada Tuhan.

Produksi dari laut Desa Ujunggebang itu sendiri beranekaragam, bermacam jenis ikan bisa diperoleh dari laut tersebut. Bahkan, para nelayan juga kerap mendapatkan udang ketika melaut di laut Desa Ujunggebang tersebut.

Ia mengatakan, ritual pembuangan kepala kerbau merupakan kepercayaan nelayan sejak dahulu, karena itu hingga kini ritual tersebut tetap dilakukan. Sedangkan pihak kecamatan menggabungkan perayaan itu dengan berbagai acara hiburan, bertujuan untuk menarik lebih banyak pengunjung.Ujunggebang bergaya com





Selasa, 08 Januari 2013

INDAH NYA PESONA PANTAI BALI TANJUNG PURA DESA UJUNGGEBANG


Sungguh ini awalnya tempat pertama yang saya kunjungi di Ujung Genteng. Memang  tempat pelelangan ikan ini tidak berbeda dari pelelangan ikan yang lain. Satu yang istimewa adalah ikan diperoleh langsung segar hasil tangkapan nelayan, biasanya di pagi hari. Jadi datanglah ke tempat pelelangan pada pukul 6.00 sampai 7.00 pagi, Anda akan mendapatkan ikan segar. Ikan yang terkenal di tempat ini  yang merupakan hasil penangkapan terbaik di bandingkan tempat lain adalah ikan Layur yang sudah diekspor ke mancanegara diantaranya ke Korea dan Jepang.                  



Artikel

Jalan Jalan

Pesona Pantai bali tanjung pura ujunggebang, Wisata Alam dan Pantai


ombak 7
ombak 7
Keindahan alam dan pantai Pantai Bali Tanjung Pura Ujunggebang  membuat saya sampai menyempatkan diri berwisata ke  sampai 2 kali. Meski perjalanan  dengan menginap sampai 1 - 2 malam sudah termasuk panjang namun agenda acara wisatanya cukup padat, bahkan rasanya perlu singgah lebih lama lagi.
Ada banyak lokasi wisata yang bisa dikunjungi di sekitar Pantai Bali Tanjung Pura Ujunggebang, dari mulai tempat pelelangan ikan, pantai aquarium,, Ombak 7, ,  , pelayaran dg perahu nelayan, off road dg motor/mobil, dan berselancar. Banyak lagi lokasi yang bisa dikunjungi,, , ,Ujunggebang,tentunya bakar ikan segar di pinggir pantai Pantai Bali Tanjung Pura Ujunggebang nan indah .
Perajalanan ke Pantai Bali Tanjung Pura Ujunggebang bisa ditempuh dari bermacam rute. Jalan paling sering dilalui dari arah Jakarta menuju ke arah Indramayu, di Prempatan Sukra berbelok ke arah Pantai Bali Tanjung Pura Ujunggebang sebelum Ujunggebang  ke arah Utara.  menuju ke Pantai Bali Tanjung Pura Ujunggebang.  Jika mengamati perjalanan ini,  dibandingkan di jalan utama Jakarta Subang, anehnya di pedalaman jalannya meski kecil, berbelok  tetapi cukup mulus dan mempunyai pemandangan indah yang bisa dilihat sehingga tidak bosan.
Tempat Pelelang Ikan
Sungguh ini awalnya tempat pertama yang saya kunjungi di Pantai Bali Tanjung Pura Ujunggebang. Memang  tempat pelelangan ikan ini tidak berbeda dari pelelangan ikan yang lain. Satu yang istimewa adalah ikan diperoleh langsung segar hasil tangkapan nelayan, biasanya di pagi hari. Jadi datanglah ke tempat pelelangan pada pukul 6.00 sampai 7.00 pagi, Anda akan mendapatkan ikan segar. Ikan yang terkenal di tempat ini  yang merupakan hasil penangkapan terbaik di bandingkan tempat lain adalah ikan Etong yang sudah diekspor ke mancanegara diantaranya ke Korea dan Jepang.
Kegembiraan di Pantai
Pelayaran dg perahu nelayan
Kami memang agak “gila”, memberanikan diri menyewa perahu nelayan untuk mengarungi samudera. Ada beberapa nelayan yang menyerah karena diperkirakan bisa membahayakan jiwa kami sebagai wisatawan domestik. Ada memang wisatawan asing yang naik perahu nelayan namun dalam jangkauan dekat dari pantai. Kami wisatawan domestik yang suka menantang alias melakukan travelling yang ekstrim.
Samudera Indonesia di pantai Utara ini adalah pantai yang tipenya langsung terjal di dekat -dekat pantai. Sudah pernah terjadi, wisatawan yang tidak hati-hati tergulung ombak, terseret dan digulung sampai dasar sebelum akhirnya hanya tinggal jasad. Makanya disarankan  untuk berhati-hati di pinggir pantai, disarankan untuk menghindari berenang di tengah laut atau menaiki perahu nelayan ke tengah. Namun demikian nelayan pantai Utara ini adalah nelayan yang sangat tenang dan sudah teruji ganasnya samudera Indonesia. Bisa dibayangkan ombak dari laut (seperti laut Jawa) yang dianggap dangkal dibandingkan ombak dari Samudera  Indonesia yang dalam dan  berbatasan dengan laut lepas.  Ombak samudera pada saat tenang saja sudah besar dan menakutkan apalagi pada saat ombaknya bergejolak, biasanya pada saat pasang, hujan dan ada angin besar sungguh sangat menakutkan.
Kami tidak merekomendasikan untuk mengadakan pelayaran dg perahu nelayan ini, meski kami sudah menjalaninya. Memang mengasyikkan namun oenuh tantangan dan berisiko. Sehubungan risiko yang mungkin terjadi, kami dikasih waktu jam berangkat jam 10.00 dan diwanti-wanti jam 14.00 suka tidak suka mau tidak mau harus sudah sampai ke pelabuhan nelayan Ujunggebang. Lebih dari jam 14.00 ombaknya sangat berbahaya dan berisiko tinggi. 
Lokasi yang menjadi primadona Pantai Bali Tanjungpura Ujunggebang adalah ombak 7.  Menurut nelayan, penamaan ini disebabkan pada saat pasang dan ada angin besar akan ada 7 ombak besar yang bergulungan secara beruntun memecah di kumpulan karang.  Pemandangan 7 ombak itu katanya sungguh amboooi. Kami tidak  sempat melihat ke 7 ombak, kami hanya melihat 2 ombak yang memecah karang. Kedua ombak yang memecah di karang tersebut saja sudah indah apalagi 7 ombak yang memecah di waktu pasang. Bahkan foto ombak 7 ini saya jadikan background untuk blog saya ujunggebang bergaya.com Indah bukan ?
Untuk melihat ombak 7 dapat ditempuh dengan 2 cara, pertama dengan perahu nelayan (tidak direkomendasikan) dan kedua off road dengan penyewaan motor masyarakat sekitar. Menurut informasi off road dengan motor juga mesti hati-hati, disarankan untuk yang muda dan punya jiwa petualangan saja untuk mencapainya. Wisatawan lain silahkan menikmati hasil jepretan foto-foto saja. :) dedi gunawan dan sundari gunawan

Inilah Kreativitas Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri


Inilah kreativias dalam mengucapkan Selamat Idul Fitri 1433 H by BBM dan SMS :
“Ayam kampung beli koran”
“Ya ampun 1 hari lagi mau lebaran”
“Makan dodol dibalik papan”
“belom afdol kalo belum maaf2an”
“Burung angsa di makan buaya”
“maafin segala dosa Ane yaa”.
Selamat menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri 1433 H,
Bersihkan hati, Sucikan jiwa.
Mohon Maaf Lahir & Batin. *** & keluarga
‎​Dear my dearest friends, perkenankan sejumput kata ini. ‎​Tak seputih baju dinas
PERAWAT, tak sejernih CAIRAN INFUS, tak setajam JARUM SUNTIK, tak secepat AMBULANCE, tak sehangat INKUBATOR, tak terdeteksi dengan USG, tak
terdengar oleh STETOSKOP, tak terlihat dengan RONTGEN & CT SCAN, tak bisa terobati oleh ANTIBIOTIK, tak mampu menahan
sakit hati dengan ANASTESI, maafkan kesalahanku walau hanya sebesar PIL KB…”Karna Idul fitri Semakin Dekat”
Selamat Hari Raya Idul fitri 1 Syawal 1433 H,Mohon Maaf Lahir & Bathin… *** kel.
Air tak selalu jernih
┆begitu juga ucapanku
└┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶⌣̊✽̶
┏┉⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶┄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┉┓
┆Kapas tak selalu putih
┆begitu juga hatiku
└┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶⌣̊
┏┉⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶┄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┉┓
┆Langit tak selalu biru
┆begitu juga hidupku
└┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶⌣̊✽̶
┏┉⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶┄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┉┓
┆Jalan tak selalu lurus
┆begitu juga langkahku
└┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶⌣̊✽̶
┏┉⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶┄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┉┓
┆Jika Maaf itu bisa terucap hari ini
┆Untuk Apa menunggu hari raya. tiba?
┆Sedangkan hembusan Napas pun
┆Kita tak pernah tau kapan akan
┆Berhenti…
┆maka dari itu ku ingin Mohon Maaf atas
┆Kesalahan Kekhilafan maupun
┆Perbuatan yg sengaja ataupun tidak
┆sengaja..yg membuat sakit hati kalian
└┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶⌣̊✽̶.
. Sebelum ramadhan pergi
. Sebelum idul fitri datang
. Sebelum operator sibuk
. Sebelum SMS pending
. Sebelum pulsa habis
┏┉⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶┄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┉┓
┆ Saya & KELUARGA
┆ mengucapkan
┆ MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN
┆MOHON MAAF LAHIR & BATHIN. (***)
Air tak selalu jernih,begitu juga
ucapanku…
Kapas tak selalu putih,begitu juga
hatiku…
Langit tak selalu biru,begitu juga
hidupku…
Jalan tak selalu lurus,begitu juga
langkahku…
Jika maaf itu bisa terucap hari ini…
untuk apa menunggpt esok…
sedangkan hembusan nafas kita pun tak tahu kapan berhenti….
maka dari itu MINAL AIDIN WAL FAIZIN,,,,mohon maaf lahir & batin…(***)
 terkadang salah melihat
‎​ terkadang salah berucap
 terkadang salah mendengar
 terkadang salah berbuat
 terkadang salah melangkah
 terkadang salah prasangka
Walaupun tidak datang ke  dan tanpa sbuah  ataupun , via bbm ini saya mohon maaf atas segala kekhilafan 
Selamat Hari Raya Idul Fithri  H
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum
Minal ‘Aidin Wal Faizin (**** & Keluarga di Papua)
Dengan kerendahan hati & jiwa yg tulus mengucapkan :
♧♧°˚˚˚°♧♧♧°˚˚˚°♧♧
★☆┊┊☆★
Selamat Hari Raya IduL fitri
★☆┊┊☆★ ★☆┊┊☆★
☆°˚˚°★┊┊(*) (*)┊┊★°˚˚°☆
(*)
Kami Mengucapkan ;
♏È‹̝̊ηαℓ αȋ̝̊Ï‘zÈ‹̝̊η ωαℓ fαȋ̝̊Ï‘zÈ‹̝̊η (*)
┊┊°˚˚°.☆°˚┊┊˚°★.°˚˚°┊┊
☆°˚˚°★┊┊(*) (*)┊┊★°˚˚°☆
♏õнõη ♏ααƒ ℓαнȋ̝̊r ϑαη ßαtÈ‹̝̊ηO:) ({}). (*** And Family)    post.ndary gunawan and ujunggebang bergaya

Jumat, 04 Januari 2013

nelayan UJUNGGEBANG




Nelayan Tradisional Butuh Intervensi

MASA paceklik atau musim angin besar yang membuat nelayan tradisional tidak bisa melaut biasanya hanya berlangsung tiga bulan.

Celakanya, musim ini masa paceklik tersebut molor dari kebiasaan. Tidak tanggung-tanggung, lebih dari satu tahun lamanya. Alhasil, 3-5 juta nelayan tradisional terjerembab ke lubang kemiskinan. Daya belinya pun melorot.

Ketua Departemen Organisasi dan Kader Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Indon Cahyono mengibaratkan kondisi mereka saat ini sudah lampu merah. "Mereka membutuhkan intervensi kebijakan. Misalnya, pemerintah memberikan bantuan," ujarnya, pekan lalu.

Indon membenarkan pemerintah memang mempunyai program modernisasi alat tangkap dengan cara memberikan 1.000 kapal modem sepanjangperiode 2010-2014. Namun, program itu hanya menyasar segelintir nelayan.

"Jika satu kelompok nelayan yang mengelola, katakanlah jumlah mereka 15 orang, berarti sumbangan 1.000 kapal tersebut hanya menyasar 15 ribu nelayan," jelasnya.

Padahal di negeri kepulauan ini, jumlah penduduk yang berprofesi sebagai nelayan mencapai 3-5 juta jiwa. Dengan kondisi yang menekan, permasalahan paceklik nelayan sanggup memunculkan permasalahan sosial pelik.

Berdasarkan data produksi ikan di ujunggebang, salah satu pesisir kaya pelayan di Jawa, tangkapan ikan nelayan merosot dalam tiga tahun terakhir.

Jika pada 2008 jumlah produksi ikan masih menembus 5.311,4 ton pada tahun berikut merosot menjadi 3.667,2 ton. Pada 2010, total produksi ikannya hanya 2.123,3 ton. Selama periode tiga tahun tersebut,angka kehilangan produksi sampai setengah miliar rupiah.

Paceklik musim ini diperkirakan tidak akan menjadi hal pertama. Sebab jauh-jauh hari peneliti di berbagai pertemuan yang membahas isu kelautan memperingatkan krisis kelautan dan dampak perubahan iklim sudah di depan mata.

"Itu sebabnya, kondisi sekarang ini sudah masalah perut dan penyelesaiannya harus dengan program jangka pendek, misalnya pemberian bantuan pangan," kata dia.

Baru setelah itu, pemerintah mulai memikirkan program jangka menengah dan panjang bagi, nelayan. Bisa alternatif usaha lainnya seperti budi daya ikan perairan darat, sedangkan untuk istri nelayan diberikan pelatihan seperti pembuatan kerajinan sehingga mereka juga dapat mengembangkan usaha tanpa harus menggantungkan hidup dari hasil tangkapan. (LD/N-3)dedi gunawan dan sundari gunawan

kelompok nelayan MINA LESTARI UJUNGGEBANG

Dana sudah kami terima dan kami langsung memanfaatkan untuk masing-masing anggota kelompok sebagaimana kesepakatan pengajuan semula.” Hal demikian disampaikan ajid, Ketua Kelompok Nelayan Mina Lestari kepada www.dedigunawan_g@com, Senin (31/12).

Menurut ajid, bantuan tersebut ditujukan untuk nelayan yang tergabung dalam kelompok nelayan. Dimana kelompok nelayan Mina Lestari dinilai pengelolaan usahanya baik.

“Sebab usaha dilakukan bersama-sama untuk saling menguntungkan, akan mendorong pemerintah untuk mudah memetakan kebutuhan dan dilemma para nelayan pesisir,” ungkapnya.

Sekretaris Mina Lestari sarip  menjelaskan bahwa kelompok nelayan mereka sudah berjalan cukup lama. Mereka selalu menjalin hubungan baik dengan dinas terkait setempat, “Untuk saat ini, nelayan yang berhimpun dalam kelompok sebanyak 26 orang dari berbagai usia. Mereka mengandalkan kehidupannya sebagai nelayan. Kondisi cuaca dan kelengkapan alat tangkap yang tidak memadai, membuat kesejahteraan mereka sulit terangkat. Bantuan ini sangat bermanfaat mengatasinya.”

Dengan adanya bantuan dana usaha ini menurut Sarip, “Diharapkan anggota dapat meningkatkan hasil tangkap mereka dari sebelumnya. Otomatis jika hasil tangkap mereka memuaskan, tentu dengan sendirinya kesejahteraan mereka akan membaik. Begitu pula kelompok akan dapat lebih ditingkatkan usahanya dalam pengelolaannya ke depan.”

Bantuan dana 100 juta tersebut tidak diberikan tunai kepada masing-masing anggota. Akan tetapi pengurus kelompok akan memberikan dalam bentuk alat tangkap. Pemberian sesuai dengan pengajuan anggota sendiri sebelumnya, sesuai dengan kebutuhan yang mereka perlukan dan menjadi kendala dalam melakukan penangkapan mereka selama ini. Misalnya body biduak, mesin, jaring dan alat kotak pendingin ikan.

“Ketika dana kami terima, langsung kami belikan kepada alat tangkap. Karena spesifikasi yang dibutuhkan tak bisa didapat di pasaran, kami sampai sekarang masih menanti pesanan. Tetapi boleh dikatakan sudah 80 persen kini terealisasikan,” ujar Sarip menjawab pelaksanaan kucuran dana.

Baik Ajid dan Sarip mengatakan proses hingga diterima bantuan ini lebih kurang memakan waktu 6 bulan. Mereka mengharapkan, jika pengelolaan kelompok bisa berjalan dengan baik, akan memudahkan pemerintah daerah, baik kota maupun propinsi, termasuk pemerintah pusat, dalam memetakan masyarakat nelayan pesisir, dalam mengangkat perekonomian nelayan.

“Untuk Kecamatan Sukra Desa Ujunggebang blok Tanjungpura, banyak kelompok nelayan selain Mina Lestari Tapi ternyata hanya kami lah yang terpilih menerima bantuan dari 4 paket bantuan dari pusat untuk nelayan Kota Ujunggebang,” Ajid.

kelompok nelayan UJUNGGEBANG


“Dana sudah kami terima dan kami langsung memanfaatkan untuk masing-masing anggota kelompok sebagaimana kesepakatan pengajuan semula.” Hal demikian disampaikan ajid, Ketua Kelompok Nelayan Mina Lestari kepada www.dedigunawan_g@com, Senin (31/12).

Menurut ajid, bantuan tersebut ditujukan untuk nelayan yang tergabung dalam kelompok nelayan. Dimana kelompok nelayan Mina Lestari dinilai pengelolaan usahanya baik.

“Sebab usaha dilakukan bersama-sama untuk saling menguntungkan, akan mendorong pemerintah untuk mudah memetakan kebutuhan dan dilemma para nelayan pesisir,” ungkapnya.

Sekretaris Mina Lestari sarip  menjelaskan bahwa kelompok nelayan mereka sudah berjalan cukup lama. Mereka selalu menjalin hubungan baik dengan dinas terkait setempat, “Untuk saat ini, nelayan yang berhimpun dalam kelompok sebanyak 26 orang dari berbagai usia. Mereka mengandalkan kehidupannya sebagai nelayan. Kondisi cuaca dan kelengkapan alat tangkap yang tidak memadai, membuat kesejahteraan mereka sulit terangkat. Bantuan ini sangat bermanfaat mengatasinya.”

Dengan adanya bantuan dana usaha ini menurut Sarip, “Diharapkan anggota dapat meningkatkan hasil tangkap mereka dari sebelumnya. Otomatis jika hasil tangkap mereka memuaskan, tentu dengan sendirinya kesejahteraan mereka akan membaik. Begitu pula kelompok akan dapat lebih ditingkatkan usahanya dalam pengelolaannya ke depan.”

Bantuan dana 100 juta tersebut tidak diberikan tunai kepada masing-masing anggota. Akan tetapi pengurus kelompok akan memberikan dalam bentuk alat tangkap. Pemberian sesuai dengan pengajuan anggota sendiri sebelumnya, sesuai dengan kebutuhan yang mereka perlukan dan menjadi kendala dalam melakukan penangkapan mereka selama ini. Misalnya body biduak, mesin, jaring dan alat kotak pendingin ikan.

“Ketika dana kami terima, langsung kami belikan kepada alat tangkap. Karena spesifikasi yang dibutuhkan tak bisa didapat di pasaran, kami sampai sekarang masih menanti pesanan. Tetapi boleh dikatakan sudah 80 persen kini terealisasikan,” ujar Sarip menjawab pelaksanaan kucuran dana.

Baik Ajid dan Sarip mengatakan proses hingga diterima bantuan ini lebih kurang memakan waktu 6 bulan. Mereka mengharapkan, jika pengelolaan kelompok bisa berjalan dengan baik, akan memudahkan pemerintah daerah, baik kota maupun propinsi, termasuk pemerintah pusat, dalam memetakan masyarakat nelayan pesisir, dalam mengangkat perekonomian nelayan.

“Untuk Kecamatan Sukra Desa Ujunggebang blok Tanjungpura, banyak kelompok nelayan selain Mina Lestari Tapi ternyata hanya kami lah yang terpilih menerima bantuan dari 4 paket bantuan dari pusat untuk nelayan Kota Ujunggebang,” Ajid.

Kamis, 09 Juni 2011

sutrisno ujunggebang




Daftar Nama Pemenang

Daftar Nama Pemenang

NAMA PEMENANG  DAERAH PEMENANG JENIS HADIAH
 No.Hoky
ZULKIFLI.S BOGOR Uang Tunai  97xxx
PARJO SOLO Uang Tunai  21xxx
SURYANENGSIH JAKARTA Uang Tunai  43xxx
I KETUT YOGA DENPASAR - BALI Uang Tunai  25xxx
HASANUDDIN MAKASSAR Motor  79xxx
MILA SARI BATAM Motor  90xxx
YOHANES BATAM Motor  32xxx
FIRDAUS BANDUNG Motor  62xxx
PRAITNO BANDUNG Motor  19xxx
PURWAJI PURWOKERTO Motor  74xxx
SHELVIA PURWOKERTO Motor  31xxx
SUSANTI DEPOK Handphone  59xxx
TITIN SUDIARTI DEPOK Handphone  61xxx
TRI SUSILAWATI TANGERANG Handphone  83xxx
ANTON JAYA TANGERANG Handphone  30xxx
TEGUH BEKASI Handphone  51xxx
IIS SUKARZIH CIKARANG - BEKASI MOBIL(hadiah utama)  11xxUBS

Gapura Desa UJUNGGEBANG

Gapura perbatasan Desa,Ujunggebang dengan Desa,Tegal Taman kecamatan Sukra akan segera dibangun kembali. Dalam rancangannya gapura tersebut akan memiliki arsitektur khas Pesisir Ujunggebang sehingga juga berfungsi sebagai etalase daerah.
Kuwu Ujunggebang H. Daim, Rabu (4/6) menyatakan pembangunan gapura di daerah perbatasan selain berfungsi sebagai penunjuk batas wilayah juga berfungsi sebagai ajang promosi daerah.
" Dengan rancangan yang arsitekturnya menunjukkan karakteristik daerah, gapura juga bisa berfungsi sebagai ajang promosi bagi orang luar daerah yang melintas wilayah Ujunggebang," katanya.
H.Daim mejelaskan pembangunan gapura juga direncanakan akan diikuti dengan pembangunan tempat peristirahatan (Rest Area) dan akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kab.Indramayu
" Anggarannya nanti akan disusun oleh Tim Tekhnis namun kalau bisa akan diikuti juga dengan realisasi pembangunan Rest Area," lanjutnya.
Gapura perbatasan Ujunggebang dengan Desa,Tegal Taman yang sudah ada sebelumnya mengalami kerusakan akibat gapura tersebut sudah lapuk dimakan usia. Rencana pembangunannya akan dimasukkan dalam APBD tahun 2011.(Dedi Gunawan)
INDRAMAYU, Dedi Gunawan.com - Ratusan rumah nelayan di Kecamatan Sukra Desa.Ujunggebang Indramayu masih terendam banjir rob, Jumat (21/1). Namun, ketinggian air mulai menurun. Ketinggian air, kemarin, tinggal 30-40 sentimeter.

Catut, salah seorang nelayan di Desa Ujunggebang, Kecamatan Indramayu, mengatakan, meski sudah mulai surut, para nelayan masih waswas untuk kembali ke rumah. Pasalnya, mereka takut rob kembali menerjang, apalagi malam hari saat air laut pasang.

"Untuk sementara kami bertahan dulu di rumah kerabat yang aman. Takut nanti air pasang dan menerjang rumah," ujar Catut, saat ditemui sedang beres-beres di rumah.
Menurut Catut, banjir rob yang menerjang perkampungan tempat tinggalnya disebabkan oleh air laut pasang. Apalagi saat bulan purnama seperti sekarang ini.

Selain itu, cuaca ekstrem yang terjadi di perairan laut Jawa juga turut ambil bagian. Pasalnya ombak menjadi tinggi sehingga air laut naik ke daratan meski sebenarnya sudah ada dinding penghalang. Sementara di pesisir pantai Indramayu juga saat ini sedang dilanda hujan.

Asikin mengatakan, rob di daerah tempat tinggalnya sudah terjadi hampir dua pekan. Sejak angin kencang melanda, air laut langsung naik ke daratan melalui ombak.
Sebelumnya juga pernah terjadi rob besar, dalam kurun waktu berdekatan. Rob tersebut terjadi pada November dan Desember.

Selain menggenangi rumah, banjir rob juga menggenangi sejumlah bangunan sekolah di Ujunggebang . Akibatnya, siswa terpaksa libur untuk sementara.
"Untuk sementara ini anak sekolah libur dulu sampai air benar-benar surut dan bangunan sekolah aman," ujar Kuwu Ujunggebang, H.Daim.(Dedi gunawan)

Pantai di Indramayu Rusak Akibat Abrasi

Abrasi pantai akibat kerusakan ekosistem di kawasan pesisir pantai utara Indramayu cukup parah dan merata. Kepala Kantor Lingkungan Hidup Indramayu Aep Surahman mengungkap, bila kondisi tidak segera ditangani, sejumlah infrastruktur, termasuk jalur lintasan utama pantura Jawa bakal terancam.

Sepanjang 114 kilometer daerah tersebut mengalami kerusakan kritis. Pesisir pantai telah tergerus sejauh 45 km dari garis pantai. Pihak Pemkab Indramayu dan Pemprov Jabar telah terus berupaya dengan melakukan penanaman bakau serta membangun pemecah gelombang di sejumlah wilayah. Namun bangunan pemecah gelombang ini pun belum optimal untuk mengurangi abrasi. Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu Abdur Rosyid Hakim menegaskan bahwa pembangunan pemecah gelombang di lokasi yang kritis menjadi prioritas pada tahun ini.

Aep menyebutkan bahwa solusi terbaik adalah penanaman vegetasi mangrove, seperti bakau. "Persoalannya banyak warga belum sadar akan manfaat vegetasi itu untuk penahan abrasi," ujarnya. Ia merujuk pada contoh, area hutan mangrove seluas 3 hektar di Desa Ujunggebang, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, sekarang habis ditebangi. Hutan itu mestinya dikelola oleh Perum Perhutani. Juga rawa-rawa air payau di beberapa lokasi sudah gundul.

Selain mengalami abrasi, puluhan hektar hutan bakau di kawasan pantai Indramayu tersebut kini sebagian besar beralih fungsi menjadi tambak-tambak udang dan bandeng. Bahkan masyarakat pengelola tambak merasa dirugikan dengan keberadaan mangrove di sekitar tambak, yang dianggap menggangu luasan tambak mereka itu.

Aktivis Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu Robinson mengatakan, hutan pantai yang selama ini menjadi jalur hijau, sebagian hanya tinggal onggokan tonggak pohon bakau di tengah area tambak.dedigunawan_g@yahoo.com

prospek cerah untuk beternak ayam potong

Daging ayam merupakan daging favorit di negara kita, karena hampir 100% orang Indonesia suka makan daging ayam. Sehingga berbisnis ternak ayam potong merupakan peluang yang sangat bagus untuk dikembangkan. Beberapa waktu yang lalu, bisnis ayam potong sempat mengalami kemunduran ketika flu burung melanda dunia. Banyak pengusaha ayam potong yang gulung tikar karena daging ayam menjadi “tersangka” utama sehingga menyebabkan orang takut mengkonsumsi daging ayam lagi. Sekarang isu flu burung sudah perlahan menghilang, inilah prospek cerah untuk beternak ayam potong yang mulai menguat kembali.
Konsumen
Sebagian besar masyarakat menyukai daging ayam, konsumennya pun manjangkau dari anak – anak, anak muda, hingga orang tua. Selain itu banyak usaha makanan dan restoran yang menggunakan daging ayam sebagai bahan baku usaha mereka. Jadi selain konsumen perorangan, usaha ini juga memiliki peluang kerjasama dengan usaha yang berbahan baku daging ayam. Selain itu banyak juga masyarakat yang tertarik dengan bisnis peternakan ayam broiler ini, penjualan bibit ayam pun juga dapat dijadikan sebagai tambahan pendapatan usaha tersebut..dedigunawan_g@yahoo.com

Minggu, 24 April 2011

asal usul indramayu

logo indramayu
logo indramayu
Hikayat yang beredar dari mulut ke mulut menuturkan, alkisah Raden Wiralodra, putra ketiga Tumenggung Gagak Singalodra yang bermukim di daerah Banyuurip, Bagelen, Jawa Tengah, terpanggil untuk mencari dan mengembangkan wilayah di sekitar SungaiCimanuk.
Di bawah kepemimpinan Wiralodra, wilayah itu berkembang pesat. Karena itu, ia ingin memperluas wilayahnya hingga ke Sumedang. Dengan kesaktiannya, Wiralodra lalu mengubah dirinya menjadi seorang perempuan sangat cantik bernama Nyi Endang Dharma Ayu. Melihat kecantikan Darma Ayu, Adipati Sumedang jatuh hati, lalu memperistrinya.
Sebagai mas kawin, Adipati Sumedang bersedia memenuhi segala permintaan Nyi Darma Ayu yang meminta sebidang tanah seluas kulit kerbau. Ketika digelar, kulit itu membentang luas dari Begelen ke Sumedang. Setelah pernikahan, Nyi Darma Ayu kembali menjadi laki-laki.
Nama Endang Dharma Ayu lalu menjadi asal nama Indramayu. Hingga saat ini masyarakat setempat masih percaya pada hikayat tersebut. Konsekuensinya, mereka menggunakan pesona kecantikan untuk memperbaiki nasib.dedi gunawan

dongenga warga indramayu


Seperti biasa, selepas panen dan disusul dengan datangnya musim kemarau, di areal sawah yang terhampar luas itu, para petani (peternak) bebek pun mulai berdatangan. Dan di areal itu, kakek adalah termasuk yang paling dulu. Sudah tiga hari beliau berjalan menggiring bebek-bebeknya. Pemujaan Monyet. Walau bermandikan peluh yang terus mengucur membasahi kulit keriputnya, tampaknya, dia enggan untuk mecari tempat berteduh.

Manakala, cacing-cacing di perutnya mulai berulah meminta makan, maka, di sela-sela kesibukannya menghalau bebek dia pun menoleh untuk menari temat berteduh. Tapi apa daya, di tengah-tengah hamparan sepertiga sawah yang mlai dipanen, tak ada sebatang pohon atau danau yang dapat digunakan sekadar untuk melepaskan lelahnya. Padahal, tubuh tuanya benar-benar meminta untuk beristirahat walau barang sejenak. Saat tulangnya mulai tak kuasa menyangga tubuh tuanya dan saat menengok ke arah timur, hati kakek langsung tercekat. Betapa tidak, kurang lebih dua ratus meter di hadapannya tampak berdiri tegak sebatang pohon asam.

Hatinya langsung berbunga-bunga. Tanpa menghiraukan bebek-bebeknya, sang kakek dengan setengah berlari langsung menghampiri pohon asam dan duduk di baah kerimbunannya. Tak seperti biasanya, kali ini, sang kakek tak sempat memperhatikan keadaan sekitarnya. Sambil duduk di atas sebuah lempengan batu tipis yang berukuran sekitar 0,5 meter yang dipikir sebagai tempat beristirahat bagi para penggarap sawah di sekitarnya. Apalagi, di sekitar itu tampak berserakan dedaunan pisang bekas pembungkus nasi yang sudah mongering bahkan ada sebagian yang mulai membusuk.

Sambil mengatur nafasnya yang masih memburu, sang kakek langsung membuka bajunya yang kuyup dengan keringat dan meletakkannya di ranting pohon. Dan setelah itu, sang kakek segera mengambil dan membuka kantong yang berisikan perbekalan di mana di dalamnya terdapat bungkusan nasi dan ikan serta air untuk minum.

Dengan amat lahap, sang kakek memakan bekalnya hingga tak tersisa barang sedikit pun. Maklum, sejak pagi, perutnya belum terisi nasi barang sebutir pun. Setelah itu, dia pun mengeluarkan bungkusan yang berisi tembakau tampang dan lipatan daun aren yang telah mengering. Setelah itu, jari jemari tuanya dengan cekatan memotong daun aren dan meracik tembakau tampang untuk dibuatnya menjadi rokok.

Seusai menyalakan, kini, dia pun menyandarkan tubuhnya di batang pohon sambil sesekali menghisap rokoknya dalam-dalam. Angin sepoi-sepoi basah yang menerpa tubuhnya, seketika mengudang rasa kantuknya yang berat. Tanpa sadar, matanya mulai mengecil dan rokok yang terselip di jarinya pun terjatuh. Kini, dia tertidur pulas dan bahkan mendengkur.

Waktu terus berjalan. Dan tak terasa, mentari pun mulai begeser ke peraduannya. Nun, di kejauhan, tampak serombongan orang berjalan menuju ke arahnya. Setelah dekat, tampak dengan jelas betapa yang berjalan paling depan adalah sosok yang usianya sebaya dengan kakek., Dia mengenakan pakaian serba hitam, mengenakan ikat kepala juga berwarna hitam sebagaimana layaknya seorang jawara.

Di tangan kanannya tampak terpegang pedupaan dari tanah liat, di mana apinya kelihatan membara akibat tertiup oleh hembusan angin. Dari asapnya yang mengepul, tercium bau kemenyan yang menyengat. Sementara, di belakangnya, tampak berjalan dua pasang manusia yang usianya pun tak jauh berbeda dengan psosok yang bejalan di depannya.

Entah apa tujuanmereka sebenarnya. Yang jelas, akibat rasa lelah yang teramat sangat, letaknya yang berlawanan arah serta terhalang oleh tanaman perdu yang teramat rapat, maka, kakek pun tak sempat memperhatikan sekitarnya. Ya … dia tidak tahu jika di balik pohon yang dipakainya sebagai tempat istirahat, terdapat sebatang pohon beringin yang teramat rindang yang usianya diperkirakan sudah mencapai ratusan tahun. Sementara, di bawah kerindangan pohon yang berdiri angkuh itu, terdapat gundukan batu bata yang tertata apik sebagaimana layaknya sebuah makam. Selain itu, di sana juga terdapat tempat duduk yang tampak bersih karena sering diduduki dan juga terbuat dari batu bata.

Karena dikelilingi oleh akar beringin yang menghunjam tanah dan lebatnya tanaman perdu yang mengelilinginya, maka, suasana kuburan itupun terasa angker. Nuansa mistisnya pun terasa pekat! Walau begitu, kelima sosok itu dengan takzim duduk bersimuh menghadap ke kuburan tadi.

Setelah sejenak menata diri, sang kuncen, yang tadi berjalan paling depan dan berpakaian serba hitam itu langsng menaburkan kemenyan ke pedupaan yang apinya kian membara. Serta merta, bau kemenyan yang terama menyengatpun menusuk hidung. Bahkan, ada di antara merekan yang terbatuk sambil sesekali tangannya menepiskan pekatnya asap kemenyan yang menyelimuti tubuhnya.

Karena penasaran, kakek langsung merapatkan tubuhnya ke pohon asam. Nafasnya pun sengaja ditahan. Hanya sesekali, dia menarik dan mengeluarkan napasnya dengan halus. Sementara, matanya dengan tajam tertuju kepada mereka yang tengah melakukan ritual.

Dari do’a yang dilantunkan dan sebelumnya ada penerangan dari sang kuncen, kakek dapat menarik simpulan betapa tempat itu adalah tempat bersekutunya manusia dengan iblis. Mereka adalah manusia yang nekad mencari kekayaan duniawi tanpa menghiraukan akibat yang bakal ditanggungnya nanti.

Prakiraan kakek ternyata benar. Di tengah-tengah semilirnya angin yang meniup dedaunan, kakek dengan jelas mendengar lantangnya suara kuncen yang sengaja datang guna menyampaikan maksud dan tujuannya. Usai itu, terdengar suara sang kuncen yang memanggil suatu nama yang terasa asing di telinga. Dan apa yang terjadi, setelah tiga kali mengulang, entah dari mana datangnya, seketika tampak segerombolan monyet yang langsung menghambur ke sesaji yang tersedia. Suaranya amat gaduh. Kawanan itu seolah sebulan tak pernah mendapatkan makanan.

Jeritan-jeritan kesakitan dan menyayat langsung membahana. Monyet-monyet itu berebut bahkan saling cakar. Sepertinya, mereka takut tidak kebagian. Dan di antara mereka, ada seekor monyet yang paling besar dan berekor buntung yang hanya menyaksikan saja. Seolah tidak begitu bergairah dan tidak nafsu makan. Dalam hati kakek bergumam, “Dia pasti rajanya!”

Pantas saja tadi si kuncen memanggil dengan kata; “Si bunting!” Jelas, dia adalah pemimpinnya. Kini, si Buntung duduk paling depan, dekat dengan kuncen. Sementara, tangannya menggenggam tumpeng dan memakannya dengan lahap. Bersamaan dengan habisnya sesajen, maka, monyet-monyetpun hilang entah kemana. Yang tampak, kelima orang itu pulang dengan penuh harap.

Yang tinggal hanyalah kakek dengan tubuh rentanya. Dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil sesekali menarik napas berat. Di hatinya, dia muak melihat ada segelintir manusia yang nekad dan sampai hati menukar nyawanya untuk kebahagiaan sesaat. Setelah menimbang beberapa lama, akhirnya, kakek pun bertekad ingin menghancurkan sarang iblis itu dengan kekuatan yang dimilikinya. Dengan serta merta dia segera membuka kantong yang selama ini setia menemaninya. Didalamnya, dia mengambil sebuah jagung sisa makanan bebek, sementara, dari saku celananya dikeluarkan kemenyan yang terbungkus kertas putih. Ya … memang orang-orang tua dahulu tak pernah bisa lepas dari tradisi. Kemana pergi, kemenyan selalu saja menyertainya. Jagung dan bungkusan kemenyan dia masukan kembali ke dalam kantong dan menyambar bajunya. Seiring dengan kantong yang diselendangkan di bahunya, tangannya juga menggenggam ruyung yang terbuat dari kayu asam berbentuk “gada” yang selalu saja setia menemaninya. Dia pun langsung melangkah menuju ke kuburan yang terletak di bawah pohon beringin itu.

Tanpa memperdulikan bebek-bebeknya, dia langsung memasuki tempat pemujaan yang dari kejauhan masih tampak dengan jelas kemelun tipis asap pedupaan. Setelah sejenak meneliti keadaan sekitar dan membulatkan tekadnya, dia pun duduk di tepat sang kuncen tadi berikrar. Setelah meletakkan jagung dan kemenyan d sebelah kanannya, bara pedupaan yang mulai mereup langsung ditiup dengan keras oleh kakek.

Kemenyan pun lalu ditaburkan di atas pedupaan. Seiring dengan kepulan kemenyan yang kembali menebal, kakek langsung mengulang mantera yang tadi dibacakan oleh sang kuncen. Dan setelah itu, dia pun mulai memanggil dengan suara keras; “Buntung … Buntung … kemari kamu!”

Pemandangan yang terjadi pun seperti tadi. Yang datang hanyalah monyet-monyet kecil yang langsung mengerubuti jagung yang sengaja sudah dipipil dan ditaburkan oleh kakek. Kejadian yang aneh pun mulai terasa. Di antara binatang-binatang itu, ada seekor yang selalu menutupi wajahnya, ada yang hanya diam, dan sisanya berebut jagung dengan rakusnya.

Dengan tajam mata kakek terus tertuju pada monyet yang selalu menutupi wajahnya. Hatinya semakin tercakat manakala melihat monyet itu menangis. Karena yang dipanggil belum juga muncul, kali ini kakek kembali berteriak dengan nada marah; “Buntung … Buntung … Buntung …kemari kamu!”

Selang beberapa saat, dengan tenang dan tanpa rasa curiga barang sedikitpun, si Buntung pun datang menghampirinya. Kakek mempererat pegangannya pada ruyung, sementara, tangan kirinya terus saja menebarkan biji-biji jagung. Ketika si Buntung makin mendekat, dengan rasa geram yang teramat sangat, kakek pun mengayunkan ruyungnya dengan keras ke arah bahu kanan si Buntung. Serta merta, jeritan membahana pun terdengar dari mulut monyet yang kesakitan itu. “Akh …!”

Kakek enggan memberikan kesempatan pada si Buntung untuk melakukan perlawanan, sambil mengumpat, “Kamu telah membuat manusia tersesat. Kamu yang menebar kemusyrikan. Rasakanlah!” Tangan kakan kakek tak henti-hentinya menetakkan ruyungnya ke tubuh si Buntung.

Melihat rajanya disiksa, monyet-monyet yang lainpun langsung tunggang langgang dan menghilang di balik kerimbunan pohon beringin. Sesuai dengan wataknya yang keras, tanpa mempertimbangkan segala akiba dan resikonya, kakek terus saja menetakkan ruyungnya ke tubuh si Buntung yang sudah tak berdaya itu.

Entah berapa puluh atau ratus kali ruyung kakek menhantam tubuh si Buntung. Yang jelas, seiring kumandang adzan subuh yang sayup-sayup terlontar dari corong dimasjid dan musholla yang ada di kampung seberang sana, tubuh si Buntung pun raib bak ditelan bumi. Kini yang tinggal hanyalah kakek dengan napas yang memburu dan peluh yang membasahi tubuhnya.

Setelah melakukan sujud syukur dan dilanjutkan dengan tayamum untuk mendirikan shalat Subuh, kakek pun melantunkan do’a atas kerunia dan kekaabn yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta saat menghancurkan iblis si Buntung. Usai itu, kakek pun teringat akan bebek-bebeknya. Ya … dia segera mengumpulkan telur dan bebek-bebeknya dengan senyum. Maklum, kala itu harga telur bebek sedang melambung. Demikian sekelumit pengalaman kakek yang diceritakan kepadaku. Semoga, kisah ini dapat diambil manfaatnya leh kita semua.dedi.mengod@yahoo.com