Rabu, 13 April 2011

Petrani Jamur di ujunggebang- Indramayu

Pada awalnya, pemenuhan kebutuhan manusia terhadap jamur konsumsi hanya mengandalkan kemurahan alam. Dengan cara seperti ini, jumlah jamur yang didapat sangat terbatas dan hanya pada musim tertentu bisa diperoleh. Di Indonesia, jamur hanya tumbuh secara alami pada musim hujan. Inisiatif pembudidayakan jamur konsumsi dilakukan saat kebutuhannya terus meningkat, sedangkan persediaan di alam semakin terbatas. Berkat pengamatan [...]
Panduan Cara Merawat Baglog Jamur

PANDUAN CARA MERAWAT BAGLOG JAMUR

Jumat, Mei 28, 2010
Bila baglog yang ada di ruang inkubasi sdh memutih 100 % atau sudah diselimuti miselium sampai ke dasar baglog, maka baglog siap untuk di pindahkan ke rumah atau ruangan pertumbuhan jamur atau disebut kumbung jamur. cara merawat jamur tiram, perawatan jamur tiram, Cara perawatan jamur tiram, cara membuat baglog jamur tiram, cara memelihara jamur tiram, cara [...]
Prospek Cerah Budidaya Jamur Merang

PROSPEK CERAH BUDIDAYA JAMUR MERANG

Senin, Mei 3, 2010
Sebut saja sate jamur, jamur goreng tepung, sup jamur, pepes jamur, keripik jamur, dan banyak jenis makanan olahan lain dari jamur, kini menjadi daftar menu utama di restoran-restoran yang menyediakan menu khusus vegetarian. Di restoran dan rumah makan umum pun, menu serbajamur kini semakin banyak ditemui. Jamur disukai tak hanya karena rasanya yang lezat. Jamur, juga [...]
Budidaya Jamur Tiram Lebih Mudah dengan Media Murah

BUDIDAYA JAMUR TIRAM LEBIH MUDAH DENGAN MEDIA MURAH

Sabtu, Mei 1, 2010
AGRIBISNIS jamur tiram, di Nusa Tenggara Barat, sampai saat ini masih tergolong hal baru. Di Jawa dan Bali, bisnis ini sudah cukup lama dikenal. Di Lombok, tidak banyak bahkan bisa dikatakan hanya satu dua saja yang menggeluti usaha ini. Salah satunya adalah usaha yang dirintis Ir. M. Mahrup Kaseh sejak tahun 1989. Hingga kini usaha itu [...]

Selasa, 12 April 2011

INDRAMAYU - Para petani di wilayah Pantura Kabupaten Indramayu merasa resah dengan peredaran benih padi varietas mekongga yang dicurigai sebagai produk benih palsu. Meskipun belum diuji secara kualitas dan efeknya, benih padi itu dibungkus dengan kemasan palsu tanpa takaran pasti.

Daca,H.Dulati dan Hj. Dayi petani asal Blok pegagan RT 02 RW 03, Desa Ujunggebang, Kec. Sukra, mengatakan, pada benih padi yang dicurigai palsu itu tertera merek Benih Bina Unggul Varietas Mekongga Super Jumbo yang diproduksi Petani Jabar Indonesia.

Namun, menurut Daca, selain dijual oleh beberapa petani di Kec. Sukra dan Patrol, kejanggalan terletak pada kemasan plastik bibit yang tidak rapi dan tampak berbeda dengan kemasan bibit asli.

Daca mengatakan, harga benih padi tersebut juga terbilang lebih murah, yaitu Rp 330.000 per kuintal. Padahal, biasanya harga normal Rp 1 juta per kuintal atau Rp 50.000 untuk kemasan 5 kg.
Olah Tanam Petani Indramayu Masih Adu Nasib

Indramayu, dedigunawan_g@yahoo.com
Gaya teknis petani dalam mengolah tanah dan olah tanam, selama ini dinilai masih klasik dan monoton, terkesan hanya sebatas mengadu nasib. 
Berdasarkan pengalaman hasil keliling di luar negeri seperti China dan beberapa negara lainnya, para petani memiliki target pendapatan yang ditentukan dengan perawatan apik bersistem ekonomis.
Sudah saatnya para petani Indramayu perlu diubah dengan gaya baru yaitu salah satunya menggunakan nutrisi dengan phosphate tinggi yakni Aminophos. 
Hal itu dikemukakan Direktur Pemasaran PT Agro Sentosa Mandiri (AMS) Bandung, Ir Mato, saat sosialisasi produk Aminophos pada ratusan petani Kab Indramayu bagian barat pada Senin (18/1) di aula Kantor Desa Sidamulya Kec Bongas.
Selain Direktur Pemasaran PT AMS, ikut hadir utusan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian dari lima kecamatan, puluhan ketua kelompok tani, Ketua Asosiasi Petani Padi Pantura (AP3) Kabupaten Subang Uhar, utusan Diskopindag Kabupaten Indramayu Edy Sukadi, dan beberapa unsur lainnya. 
Sosialisasi ini mendapat sambutan hangat para petani, terbukti dialog interaktif sekitar panca usaha tani berlangsung sejak sekitar pukul 9.00 pagi hingga 15.00 sore.
Menurut Mato, Aminophos nutrisi dengan phospat tinggi, dapat dikatakan sebagai booster untuk mempercepat perakaran dan meningkatkan produktifitas anak. 
Aminophos bersifat sistemik, berwarna kuning kecoklatan diformulasi dengan reaksi kimia murni, sehingga dihasilkan larutan yang bening tanpa endapan dengan derajat keasaman 6,7-7,1.
Lanjut ia menjelaskan, Aminophos 45 persennya mengandung ammonium polyphosphat. Peran phospat bagi pertumbuhan tanaman padi, selain dapat merangsang pembentukan akan lebih awal dan lebih banyak, juga dapat meningkatkan serta menyeragamkan pembentukan anakan. Bahkan lebih dari itu peran phospatnya dapat meningkatkan kuantitas gabah, mengurangi hampa serta mempercepat waktu panen.
Aminophos telah mendapat registrasi dari IPB Bogor karena beberapa waktu lalu telah dilakukan eksperimen dengan menghasilkan peningkatan perhektarnya mencapai 35 persen. 
Pihaknya baru melakukan demplot ke sejumlah wilayah seperti di Kabupaten Subang terdapat 260 titik untuk Kabupaten Indramayu, hanya 140 titik demplot yang tersebar di 46 desa terdapat di lima kecamatan seperti Kecamatan Sukra, Patrol, Bangas, Kandanghaur dan Kecamatan Gabuswetan,
Karyawan Diskopindag Kabupaten Indramayu yang juga suplier pupuk dan obat-obatan pertanian Edy Sukadi mengatakan, sosialisasi yang dilakukan merupakan upaya memberi jawaban jelas bagi petani yang selama ini cenderung bingung dengan berbagai obat-obatan yang menjanjikan kualitas terbaik. (ck-104) 
-------------------------------
Manfaat Aminophos bukan sekadar pada pertumbuhan padi saja, melainkan dapat dimanfaatkan untuk petani kebun seperti bawang merah, kacang panjang dan lainnya. 
Adapun soal sosialisasi, untuk sementara hanya dilakukan demplot saja dan rencananya pada musim tanam gaduh akan dilakukan launching. Dengan cara demplot, besar kemungkinan akan memberi jawaban pada masyarakat petani tentang pendapatan per-titiknya

ujunggebang bergaya

Sepanjang 44 Km Pantai Indramayu Tergerus Abrasi
Kamis, 07 April 2011 05:54
Sepanjang 44 Km Pantai Indramayu Tergerus Abrasi
ujunggebang bergaya-Gelombang pasang laut jawa yang dikenal masyarakat Kabupaten Indramayu dengan sebutan angin baratan yang melanda perairan Indramayu beberapa waktu lalu, tidak hanya meluluhlantakan areal tambak tetapi juga menimbulkan abrasi. Setiap musim baratan terjadi tanah darat sepanjang sekitar 10 meter ludes tergerus gelombang, kondisi seperti itu menimbulkan ancaman serius bagi penduduk yang tinggal dipesisir pantai.
Seperti yang terjadi di sepanjang pesisir pantai Eretan Kecamatan Kandanghaur, pesisirPatrol hingga Sukra, sepanjang pantai Dadap , Limbangan dan pantai Glayem Kecamatan Juntinyuat. Di pantai Glayem misalnya, gerusan abrasi telah menerobos tempat wisata sepanjang satu Kilometer dan mengancam kepermukiman warga. Kondisi yang sama juga dialami warga disekitar pesisir Ujung Gebang Kecamatan Sukra, abrasi diwilayah tersebut tidak hanya mengancam permukiman namun sudah menenggelamkan ribuan hektare areal persawahan. Warga berharap, pemerintah segera melakukan upaya mengatasi abrasi yang setiap tahun menjadi masalah bagi masyarakat setempat.
Sementara itu menyikapi abrasi Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan ( Diskanla ) Kabupaten Indramayu Ir. Abdul Rosyid Hakim mengatakan, bentang wilayah pesisir sepanjang 114 km diakui sebagai daerah rawan abrasi.
“ Dalam catatan Diskanla terdapat sedikitnya 44 km pesisir yang mengalami abrasi, 15 km diantaranya dalam kategori sangat parah," ungkapnya.
Meski tidak menyebutkan angka pasti namun Hakim menyatakan, kerugian akibat abrasi di Kabupaten Indramayu mencapai angka milyaran rupiah. Penanganan rehabilitasi lahan kritis akibat abrasi sulit dilakukan secara cepat, pasalnya selain karena keterbatasan anggaran, sulitnya penanganan abrasi juga diakibatkan oleh kondisi tanah pesisir yang cenderung mudah terkikis gelombang. ( dedi gunawan asli anak ujunggebang ).

MEMANFAATKAN perayaan seni tradisional dengan-membangkitkan kesadaran lingkungan, itulah yang dilakukan warga pesisir pantai di Kabupaten Indramayu. I

ni merupakan cara baru bagaimana kampanye lingkungan memanfaatkan kearifan lokal {local wisdom) yang berkembang di masyarakat
Restocking, demikian gerakan itu. Setelah sukses pada tahun 2010 lalu, gerakan memanfaatkan kearifan lokal itu makin digalakkan di tahun 2011. Hasil evaluasi sepanjang tahun 2010, gerakan itu mampu memberi kesadaran bahwa Laut Jawa dan wilayah pesisir, telah mengalami kerusakan memprihatinkan.
"Kini nelayan antusias mengikuti gerakan restocking itu. Gerakan ini bekerja sama dengan Unpad (Universitas Padjajaran -red-)," tutur Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Kabupaten
Indramayu, Ir. A.R. Hakim.
Sebagaimana pengertiannya, restocking adalah penyediaan kembali. Melalui gerakan itu, perairan pesisir di Laut Jawa di sepanjang bentangan pantai Indramayu, nelayan dan pemerintah, bersama-sama bertanggungjawab memasok bibit ikan.
Dengan menambah stok bibit ikan, populasi ikan di perairan . pantai menjadi normal kembali. Bila populasi ikan normal, dampaknya sangat besar, terutama bagi nelayan tradisional berperahu di bawah 30 grosston seperti com-preng dan sope.
Hasil tangkapan nelayan miskin yang jumlahnya mencapai ratusan ribu jiwa bisa kembali melimpah. Bila-tangkapan melimpah, penghasilan pun bertambah. "Nelayan bisamenjadi sejahtera," tutur Hakim.fr*
NELAYAN Indramayu, seperti umumnya nelayan pantai utara (pantura), mengenal upacara tradisional tahunan nadran atau sedekah laut. Sedekah laut dilakukan sebagai bentuk rasa syukur nelayan atas hasil tangkapan.
Nadran merupakan pesta semesta nelayan. Tak hanya nelayan besar, nelayan kecil juga ikut larut Halam ritus yang usianya beratus-ratus tahun dan sampai sekarang masih lestari.
Dalam upacara adat nadran, puncak prosesi hanya ditandai melarang (membuang) sesaji di tengah laut yang sudah diberi doa dan berbagai persyaratan seperti makanan, rokok hingga kepala kerbau. Setelah sesaji dilarang yang prosesinya dipimpin sesepuh adat, nelayan lalu pulang.
Antusiasme nelayan dalam nadran itulah yang dimanfaatkan Diskanla. Lewat restocking, selain melarang sesaji, nelayan, melalui kelompok-kelompoknya juga menabur bibit ikan, terutama jenis ikan perairan pantai dan karang seperti kakap, krapu, bawal, kembung termasuk beberapa spesies udang. Penebaran benih telah dilakukan di sepanjang bentangan 114 kilometer perairan pantai Indramayu, disesuaikan jadwal nadran dari mulai nelayan Ujung Gebang di Sukra (perbatasan dengan Subang), Kandanghaur, Losarang, Cantigi, Indramayu, Juntinyuat, Karangampel hingga Krangkeng (perbatasan dengan Cirebon).
"Bibit diadakan oleh pemerintah. Ini untuk merangsang nelayan. Ke depan, diharapkan nelayan, terutama juragan, bisa berpartisipasi menebar benih secara swadaya," tutur Hakim.
Tahun 2010 lalu, saat gerakan restocking dimulai, di perairan pantai Indramayu sudah ditabur benih se-
575 nbu ekor bibit. Bibit berbagai jenis ikan perairan pantai {inshorefish), ditabur dengan memanfaatkan upacara nadran.
"Nelayan antusias. Kami harap, nadran tahun 2011 ini, sudah ada nelayan yang menabur bibit secara swadaya. Tahun lalu, bibit dari pemerintah dan lembaga usaha swasta maupun negara. Kami mengoordinasi bibit itu dan membagikan kepada nelayan yang sedang nadran," tutur Hakim.
Selain jenis ikan perairan pantai, restocking juga dilakukan di pesisir-pesisir pantai Lokasinya di pantai yang masih memiliki hutan mangrove seperti di Karangsong, Indramayu hingga Losarang. Ratusan ribu udang dan bandeng ditebar, dengan harapan bisa mengembalikan populasi yang sudah merosot
"Akhir tahun 2012, sudah bisa dilihat ada penambahan populasi Selain menabur benih, di sela-sela nadran, kita juga kampanyekan perlunya menjaga ekosistem pantai dan perairan. Nelayan kini sadar bahwa lingkungan perairan yang baik akan berdampak baik pula bagi kesejahteraan mereka," tutur Hakim.
Dengan pertambahan populasi, impian nelayan kepada Laut Jawa meningkat lagi. Selama dua puluh tahun terakhir. Laut Jawa mengala-mi kemerosotan populasi ikan.
"Kalau gerakan ini terus dilakukan, dua tahun mendatang, jumlah ikan kembali banyak. Kami jadi lebih semangat mencari ikan. Kami ingin restocking menjadi gerakan rutin," tutur Cardilah (42), nelayan tradisional berperahu compreng di Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu.
SELAMA ini, dari hasil pengamatan, penyebab terbesar menurunnya ikan hasil tangkapan ialah populasi ikan. Yudi Rustomo, Sekretaris Diskanla Indramas menuturkan, kemerosotan populasi ikan di perairan pantai sudah sangat parah. "Sudah jauh di bawah aspek keekonomian bagi nelayan tradisional," tuturnya.
Memang belum ada penelitian, namun diperkirakan sudah ribuan spesies ikan tidak lagi atau sulit ditemui. Di sisi lain, juga karena overfishing atau jumlah perahu yang terus bertambah. Belum akibat kerusakan ekosistem dan kualitas perairan pantai di Laut Jawa. Hal itu membuat ikan tidak hanya berkurang dari sisi volume populasi, tetapi juga dari sisi keberagaman spesies.
"Udang, kakap, bandeng, krapu yang biasa terdapat di perairanpantai, sudah sulit didapat Populasinya merosot Bisa dibilang, ikan sudah sangat jarang," tutur Yudi
Keanekaragaman hayati di perairan Laut Jawa sudah memprihatinkan. Sudah sangat kotor. Seluruh limbah dari daerah di sepanjang pantai dibuang ke perairan tersebut Dari mulai limbah rumah tangga biasa hingga limbah pabrik berbahaya yang dibuang oleh industri-industri yang terpusat di pesisir utara.
"Oleh karena itu, selain recovery perairan pantai, gerakan restocking juga sama-sama dilakukan," tutur dia.
Gerakan restocking yang memanfaatkan kearifan lokal (nadran) tampaknya layak ditiru nelayan di daerah lain di sepanjang pesisir Laut Jawa. Dengan begitu, selain melestarikan adat tradisional, nelayan sekaligus ditumbuhkan semangat memperhatikan pentingnya mengembalikan populasi ikan dan mencintai lingkungan.(dedigunawan_g@yahoo.com


Akibat Abrasi, Warga Pesisir Ujunggebang Sengsara
[Nusantara]Akibat Abrasi, Warga Pesisir Ujunggebang Sengsara

Indramayu, Pelita
Beberapa tahun terakhir ini sedikitnya sudah puluhan pemukiman warga nelayan dan ratusan hektar tanah milik adat warga serta asset Desa Ujunggebang dan Tegaltaman Kec Sukra, hancur akibat abrasi air laut.
Ratusan warga pesisir Ujunggebang sengsara, sementara usulan pemerintahan desa setempat guna pembangunan reak water(pemecah gelombang) ke dinas instansi terkait sampai saat ini realisasinya masih belum jelas. Demikian dikatakan warga Blok Tanjungpura Desa Ujunggebang Kec Sukra, Darmin (60) pada Pelita Minggu di lokasi pesisir pantai laut Ujunggebang.
Dijelaskan, letak geografis kedua desa, sebelah barat kali Sewo yang merupakan sebagai pembatas antar-kabupaten (Kab Indramayu dan Subang) serta di sebalah utara berbatasan dengan laut yang dikenal laut Ujunggebang. Mayoritas penduduknya selain bertani, juga sebagian nelayan. Sayangnya lahan pesawahan maupun tanah darat milik adat maupun asset desa, belakangan ini makin berkurang, akibat abrasi laut yang berkepanjang an.
Tahun lalu diuntungkan oleh adanya bantuan pembangunan break water dari pemerintah, kendati hanya baru sepanjang 1 km. Setidaknya ancaman abrasi sedikit berkurang sebab sebelumnya jumlah pemukiman warga nelayan di blok Pesisir Tanjungpura, terbongkar dan ambruk. Sampai sekarang sisa bangunan tempat tinggal dapat dihitung dengan jari bahkan lokasi Tempat Pelalangan Ikan (TPI) pun terancam, sebab jarak ke bibir pantai hanya tinggal beberapa meter saja.
Peristiwa alam seperti abrasi laut Ujunggebang sempat merugikan warga Desa Ujunggebang dan Tegaltaman seperti kehilangan tempat tinggal dan asset kekayaan berupa tanah darat maupun lahan pesawahan milik adat maupun milik desa itu terjadi dimulai pada kisaran tahun 1972.
Lokasi Tempat Pemakaman Umum (TPU) Buyut Tarsiyem di pinggiran laut pun, hanya tersisa puing-puing pusara berserakan. Jasad tulang manusia sebagian dipindahkan oleh keluarganya namun ada juga dibiarkan. Sayangnya, sisa panjang pantai kurang lebih 1,5 km pembangunan break waternya terhenti.
Beberapa waktu lalu sempat dilakukan pengukuran dari Dinas terkait, tetapi hingga kini masih belum ada tanda-tanda akan dilakukan pekerjaan lanjutan. Kami berharap keresahan dan keluhan warga pesisir Ujunggebang terdengar, sebab jika dibiarkan besar kemungkinan kerugian akan makin bertambah, tutur Darmin.
Kuwu Desa Ujunggebang Kec Sukra di kediamannya membenarkan, bahwa selama ini warga Pesisir Ujunggebang resah. Soal keluhan warga tersebut, kuwu sudah berusaha maksimal dan berulang kali mengusulkan kelanjutan pembangunan break water.
Bahkan Kuwu sempat menemui langsung pada bagian terkait di Dinas PSDA Provinsi Jawa Barat di Bandung serta sampai ke Balai Besar Citarum belum lama ini. Diakui pada tahun 2008 sempat kedatangan tim konsultan dari PSDA untuk mengecek lokasi pantai yang tersisa 1,5 Km serta sudah dilakukan pematokan, tapi alhasil hingga sekarang belum ada kabar akan dilanjutkan pembangunannya, katanya.
Di tempat terpisah kuwu Desa Tegaltaman, Dirlam Fahturakhman menambahkan, terkait usulan tersebut kerap dilakukan bahkan sudah tidak terhitung proposal dibuat guna pembangunan dimaksud. Pantai Tegaltaman yang belum dibangun break water menurutnya berkisar 2 km. Kerugian dari abrasi pun tidak jauh beda dengan Desa Ujunggebang, pasalnya lokasi desanya satu hamparan dengan Tegaltaman, keluhnya. (ck-104)